Roundtable Discussion on Rabies and Anthrax Diseases diselenggarakan oleh PDHI Jatim 1 bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga pada hari jumat 28 Januari 2011 di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Pertemuan ini dihadiri oleh Drh. Darmono, Drh. A. Junaedi, Drh. R.M. Samkhan, Drh. Puthut, Drh. Irawan, Drh. Yuli P., Drh. Iswahyudi, Drh. Bambang, Drh. Ahmad, Drh. Nuning, Prof. Dr. Drh. Fedik Abdul Rantam, Prof. Dr. Drh. Bambang Sektiari, Drh. Tutik P., Drh. Nusdianto Triakoso, M.P., Drh. Boedi Setiawan, Drh. Bambang Erwanto, Drh. Bambang S., dan masih banyak lagi. Pada pertemuan tersebut juga dihadiri Dr. Zainal yang mewakili Dinas Kesehatan Jawa Timur.
PDHI berharap dari diskusi ini dihasilkan solusi yang paling tepat karena Jawa Timur saat ini dalam posisi yang sangat serius, terutama setelah Bali dinyatakan wabah rabies. Saat ini Jawa Timur masih agak tenang karena tetangga yang paling dekat yang berstatus tidak bebas rabies adalah Jawa Barat dan masih ada barrier Jawa Tengah. Namun dengan kondisi Bali yang mengalami wabah, maka tekanan Jawa Timur maupun Jawa Tengah terhadap serangan rabies sangat besar. Beberapa pakar dan key note speaker mengatakan Jawa Timur “tinggal menunggu waktu”. Oleh sebab itu, PDHI sangat berkepentingan untuk menyelenggarakan diskusi ini untuk menjaga agar Jawa Timur tetap bebas rabies.
Beberapa keynote speaker seperti Drh. A. Junaedi dan Drh. Dharmono juga menyatakan hal yang sama, bahwa Jawa Timur dalam tekanan yang besar terhadap serangan rabies.
Selain itu Jawa Timur juga harus waspada terhadap potensi serangan Anthrax dari Jawa Tengah khususnya daerah endemis anthrax yang berada di perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah. Dari pertemuan ini juga diketahui bahwa Sragen, khususnya kecamatan Tanon telah terjadi wabah anthrax pada bulan Mei-Juli 2010. Yang sepertinya kejadian tersebut terkesan ditutup-tutupi oleh pemerintah setempat.
Pertemuan ini menghasilkan beberapa rekomendasi yang akan disampaikan kepada Gubernur Jawa Timur dan instansi-instansi lain yang terkait untuk melakukan suatu tindakan yang diperlukan agar Jawa Timur tetap dalam status bebas Rabies ataupun Anthrax. Salah satu rekomendasi yang dirumuskan adalah mengusulkan kepada Komisi Ahli Direktorat Jenderal Peternakan agar secepatnya melakukan immune belt di daerah berisiko tinggi (Banyuwangi) dengan cakupan lebih dari 70% populasi yang berisiko terserang rabies. Selain itu merekomendasikan melakukan pengetatan lalu lintas HPR (hewan penular rabies), memberdayakan masyarakat agar sadar bahaya rabies dan mampu melakukan tindakan-tindakan pencegahan (misal, melaporkan kasus gigitan anjing, melaporkan adanya anjing yang masuk bersama nelayan yang bersandar ke pelabuhan-pelabuhan rakyat di Banyuwangi, dan lain-lain)
Roundtable Discussion on Rabies and Anthrax Diseases
31 Januari 2011 oleh pdhijatim1