Djokowoerjo Sastradipradja, Akademisien Anggota Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, mantan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB (masa bakti 1983 – 1986)
Pendahuluan: permasalahan.
Berangkat dari sinyalemen Ibu Menteri Kesehatan sebelum bertolak ke Beijing (Majalah Tempo 3-9 Maret 2008 hal. 92 dan Kompas 5 Maret 2008) berkaitan dengan “heboh susu formula”, a.l. terucap: “…….. yang meneliti dokter hewan pula”, mengandung muatan pertanyaan kewenangan Dokter Hewan untuk memeriksa susu formula dan menggunakan hewan coba yang tidak berhubungan dengan penyakit manusia. Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia menanggapi dengan menyatakan tugas wewenang dokter hewan a.l. menjaga keamanan pangan asal hewani untuk kesehatan masyarakat, yang dituangkan dalam PP no.22 tahun 1983 (………”Segala urusan yang berhubungan dengan hewan dan bahan yang berasal dari hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan manusia”). Juga dinyatakan bahwa profesi kedokteran hewan dikukuhkan dengan sumpah Hipokrates sebagai petunjuk bahwa profesi itu tunduk pada tatakrama etika profesi kedokteran. Kita perlu menyadari bahwa banyak kesamaan dan tiada batas yang nyata diantara seni dan ilmu kedokteran yang diterapkan kepada manusia maupun hewan.
Kedokteran, adalah cabang ilmu pengetahuan dan seni untuk menentukan (diagnosa), menyembuhkan dan mencegah penyakit pada manusia dan hewan. Sejak manusia hidup dalam kelompok keluarga dan masyarakat, maka masalah kesehatan selalu harus dihadapi yang menyangkut dirinya, anggota keluarganya ataupun sesama anggota kelompok dan hewan yang dipeliharanya.. Penyakit yang diderita memerlukan tindakan-tindakan untuk penyembuhan yang pada awalnya dilakukan sendiri, tetapi kemudian dilakukan oleh orang-orang yang khusus melakukannya secara profesional dalam profesi kedokteran. Masalah kesehatan ini tidak hanya menyangkut sesama manusia, tetapi juga hewan yang dipeliharanya sebagai teman (companion animal), sumber pangan, tenaga dan pemberi jasa lain. Dengan demikian maka di masyarakat dapat dipandang berkembang dua cabang kedokteran yaitu kedokteran manusia dan kedokteran hewan (veterinary medicine), profesi disebut akhir menangani kesehatan hewan, mula-mula untuk hewan piaraannya tetapi kemudian untuk semua hewan yang hidup di alam.
Kedokteran veteriner adalah cabang ilmu kedokteran (medical science) yang menangani kesehatan dan kesejahteraan hewan. Para dokter hewan menentukan diagnosa penyakit dan mengobati penyakit, kelainan dan perlukaan pada hewan kesayangannya, ternak, hewan laboratorium, hewan kebun binatang dan satwa liar. Para dokter hewan juga bertugas menjaga kesehatan masyarakat dengan melawan penyakit zoonotik (penyakit hewan yang dapat menular ke manusia) dan dengan mengawasi prosedur-prosedur berternak dan pemrosesan pangan untuk menjaga bekalan pangan yang aman dikonsumsi manusia. Ada dokter hewan yang secara aktif berkarya di bidang preservasi dan konservasi satwa, sedangkan banyak yang lain melakukan kegiatan penelitian tentang penyebab dan penanggulangan penyakit.
Kesehatan masyarakat adalah kegiatan dimana warga sebagai unsur masyarakat dapat melakukan hal-hal secara kolektif untuk menjamin kesehatan semua orang. [Institute of Medicine, The Future of Public Health, 1988].
Dengan berbagai alasan yang akan disajikan di bawah, seyogyanya ilmu dan seni kedokteran itu perlu dipandang sebagai satu kesatuan, yang diungkapkan dengan ”Konsep Satu Kedokteran (KSK). KSK untuk pertama kali dicetuskan oleh Dr. Calvin W. Schwabe pada tahun1960, yang terinspirasi oleh dukun-dukun di daerah pedesaan Dinka (Sudan, Afrika) yang mengobati manusia dan hewan. KSK ini memfokuskan pada kesamaan-kesamaan perhatian kesehatan medis manusia dan hewan. “Satu kedokteran” melihat adanya keeratan kaitan kesehatan manusia, kesehatan ternak dan satwa liar, pertanian, dan lingkungan. Konsep ini juga memandang peran para dokter hewan dalam isyu-isyu kesehatan masyarakat, khususnya dalam mendeteksi, meneliti cara-cara pencegahan infeksi yang berasal dari hewan. Para dokter hewan adalah satu-satunya profesi yang terlatih dalam hal kedokteran komparatif menangani beraneka ragam spesies hewan.
Dasar Biologi Molekul dalam memahami kehidupan
Adanya kesatuan ilmu kedokteran bagi manusia dan hewan didasarkan atas kesadaran kita akan anggapan bahwa sel merupakan denominator umum dari kehidupan, yaitu kesadaran bahwa semua organisme memiliki azas-azas umum bernaung dalam teori sel. Teori sel mengatakan bahwa semua mahluk hidup terdiri atas sel-sel dan produk-produk sel. Bahwasanya oleh proses evolusi terjadi beragam bentuk dan fungsi sel akibat diferensiasi dan spesialisasi, namun diakui bahwasanya semua sel hidup berbagi banyak kesamaan yang disebut ”mesin kehidupan”, mulai dari kesamaan reproduksi sel, mensintesis protein sel dengan cara yang sama mengikuti arahan dari informasi genetiknya tersandikan dalam DNA, menangani transfer energi dengan cara-cara yang sama, juga dalam hal pertukaran zat, pemanfaatan energi kimia menjadi usaha, dsb. Keadaannya adalah demikian dimana justru ketidaksamaan antara berbagai sel itu kadarnya kecil saja. Lebih-lebih kalau cakupan diversivitas itu dibatasi kepada mahluk eukariot (multiseluler) dan lebih sempit lagi vertebrata atau makin lebih sempit lagi mamalia. Adanya berbagai spesies itu akibat evolusi jelas adanya pengakuan perbedaan-perbedaan, karena itu dikenal ada berbagai istilah yang terkait, misalnya di bidang penularan penyakit dikenal spesifisitas inang, loncat inang dsb.
Adanya berbagai kenyataan tentang spesifisitas inang dari penyakit infeksi (penularan hanya didalam spesies), tetapi juga kemungkinan terjadinya loncat inang, tetapi kesamaan bernaung dalam teori sel, maka perlu dicari dasar biologinya. Kunci utama terletak pada sifat-sifat makromolekul, terutama molekul protein yang merupakan makromolekul esensial dari sel atau kehidupan yang dalam kurun perjalanan evolusi berubah melalui kesalahan-kesalahan pemasangan urutan berbagai asam aminonya, sehingga untuk sebuah protein homolog (struktur dan fungsi serupa) pada berbagai spesies hewan, didapati keadaan yang menyimpang jauh dari protein moyang asalnya serta menjauhkan sifat kekerabatan antar spesies. Fungsi utama dari molekul protein demikian masih serupa, tetapi sifat-sifat rincinya sudah cukup banyak berbeda. Inilah yang dinamakan sifat spesifisitas spesies. Kesalahan merangkai asam-amino menjadi polipeptida dan protein diawali pada perubahan material genetik makromolekul, yaitu pembawa sandi DNA dan hasil transkripsinya yaitu RNA yang tertranskripsipun ikut berubah sehingga hasil rangkaian polipeptida/proteinpun berubah meskipun sifat homologi masih sedikit banyak terpelihara. Perubahan sandi DNA disebabkan oleh mutasi oleh suatu sebab. Protein, polipeptida, polinukleotida dan polisakharida merupakan makromolekul yang karena besarnya akan dikemas membentuk struktur tersier yaitu kemasan 3 demensi. Struktur ini disebabkan karena antara gugusan-gugusan dari molekul makro dapat saling berikatan, tetapi bukan ikatan kimia kuat kovalen, melainkan ikatan-ikatan yang bersifat lebih lemah, yaitu ikatan-ikatan non-kovalen yang mendekatkan berbagai bagian (gugusan) dari satu makromolekul tunggal, maupun antara berbagai makromolekul. Ikatan-ikatan non-kovalen untuk molekul-molekul biologi dikenali beberapa macam: ikatan ionik, ikatan hidrogen, atraksi van der Waals dan juga suatu kekuatan lemah yang tercipta oleh struktur 3-dimensi dari air, kekuatan-kekuatan mana mendedahkan (expose) gugusan hidrofob untuk mengumpul jadi satu sehingga dengan demikian meminimalkan dampak dipecah yang akan diterima oleh jaringan (network) ikatan hidrogen dari molekul-molekul air. Jadi disini terjadi kekuatan expulsi dari larutan akwatik mewujudkan adanya ikatan non-kovalen lemah yang ke-4. Dalam lingkungan akwatik, setiap ikatan non-kovelen kekuatannya hanya seper-30 hingga seper-300 kali kekuatan ikatan kovalen dari molekul biologis dan kekuatan ini hanya sedikit saja diatas energi benturan termal pada suhu 37oC. Karenanya, jika hanya satu saja ikatan non-kovalen yang bekerja, maka ia tidak tahan terhadap gerakan-gerakan molekul akibat panas yang cenderung akan menjauhkan nolekul-molekul. Karena itu diperlukan banyak ikatan non-kovalen untuk mendekatkan dua permukaan molekul (besar) dan kejadian ini hanya mungkin jika banyak gugusan atom pada permukaan-permukaan itu cocok secara tepat satu dengan lainnya. Tuntutan kecocokan eksak ini bergantung kepada bentuk konformasi makromolekul, itulah yang mendasari spesifisitas dari pengenalan biologis. Contohnya yang terjadi antara enzim dengan substratnya dan reseptor dengan agonis/antagonis.
Konformasi adalah susunan 3-D atom-atom dari makromolekul. Rantai panjang yang fleksibel seperti protein dapat menekuk dengan banyak cara dan setiap konformasi akan mempunyai “set interaksi antar rantai” lemah yang berlainan dan kekuatan total dari interaksi-interaksi ini menentukan konfor-masi mana yang terbentuk. Kebanyakan molekul protein dalam sel melipat secara tetap dengan suatu cara saja: sepanjang kurun evolusi urutan subunit asam-amino pada setiap protein akan mengalami seleksi sedemikian hingga hanya satu konformasi mampu untuk membentuk lebih banyak interaksi antar rantai yang menguntungkan daripada yang lain. Spesifisitas suatu protein, misalnya suatu enzim tidaklah mutlak dan banyak terjadi kesalahan. Untuk mengatasinya, sel harus mentoleransi suatu tingkatan kegagalan dan menanggulangi kegagalan itu dengan berbagai reaksi reparasi untuk kesalahan-kesalahan yang sangat merusak. Namun, difihak lain, kesalahan dalam kehidupan adalah esensial dan justru kenyataan inilah yang memungkinkan berlangsungnya evolusi Pada hakekatnya sel-sel dibentuk dari protein yang merupakan lebih dari setengah bobot kering sel. Protein-proteinlah yang menentukan struktur dari sel dan juga bertindak sebagai alat-alat utama dari pengenalan molekul-molekul dan katalisis. Berlainan dengan DNA dan RNA yang merupakan rantai nukleotida-nukleotida yang secara kimia satu dengan lainnya sangat mirip, protein dibentuk dari 20 macam asam amino yang masing-masing mempunyai sifat kimianya sendiri-sendiri. Adanya keragaman ini memungkinkan adanya keleluasaan besar dalam sifat kima dari berbagai protein dan digunakannya protein sebagai katalisator (berupa enzim) untuk kebanyakan reaksi seluler adalah cocok dengan proses evolusi Jadi, konformasi 3-D dari suatu molekul protein ditentukan oleh urutan asam-aminonya. Stuktur melipatnya didukung oleh interaksi-interaksi non-kovalen antara berbagai bagian dari rantai polipeptida. Asam-asam amino dengan rantai cabang hidrofob cenderung untuk mengelompok didalam molekul, dan interaksi ikatan hidrogen lokal antara peptida-peptida bertetanggaan, menimbul-kan tejadinya helix dari lembaran . Daerah-daerah globuler yang dikenali dengan nama “domain” adalah unit-unit molekul darimana banyak protein tersusun: protein kecil biasanya tersusun dari satu domain saja, sedangkan protein besar dapat memuat beberapa domain yang dihubungkan melalui potongan rantai pendek polipeptida.. Dalam perjalanan evolusi, domain-domain akan mengalami modifikasi dan bergabung dengan domain-domain lain membentuk protein baru. Fungsi biologis dari protein bergantung kepada sifat-sifat rinci dari permukaan molekulnya. Oleh karena itu penggandaan molekul-molekul protein dengan urutan asam amino yang sama perlu dijamin untuk jangka waktu lama dan jaminan itu diberikan dalam bentuk DNA pilin ganda yang merupakan molekul polimer yang cukup stabil menyimpan informasi genetik dari sel dalam bentuk sandi-sandi urutan basa polinukleotida.
Fungsi protein-protein melalui mekanisme-mekanisme khasnya biasanya terkonservasi selama evolusi dan residu-residu tertentu dalam protein dapat tidak berubah. Namun, perbedaan-perbedaan antara spesies-spesies hewan dalam hal urutan asam-amino yang mempengaruhi residu pada permukaan protein dapat beraneka ragam. Perubahan-perubahan dalam bentuk permukaan molekul protein ini dapat secara radikal mempengaruhi sensitivitas misalnya terhadap efektor yang alosterik, jadi tidaklah mengherankan bahwa jika kita mempelajari protein homolog berbagai spesies hewan akan dijumpai adanya perbedaan sifat-sifat regulasi. Metabolisme dapat berbeda antara berbagai spesies, jadi sensitivitas dari enzim-enzim kuncinyapun dapat berbeda, terhadap toksin, obat-obatan, dan polutan dari lingkungan. Hal itu tidak hanya berlaku bagi enzim melainkan untuk semua protein saja, yang fungsional maupun yang struktural, termasuk berbagai hormon protein atau berbeda, terhadap toksin, obat-obatan, dan polutan dari lingkungan. Hal itu tidak hanya berlaku bagi enzim melainkan untuk semua protein saja, yang fungsional maupun yang struktural, termasuk berbagai hormon protein ataupolipeptida (insulin, somatotropin, FH, prolaktin, dsb.), reseptor, protein-protein membran (channel protein, protein pompa ion, spectrin dan glikofisin dari benda darah merah), protein-protein dalam sistem pertahanan tubuh (berbagai antibodi), protein sel fagosit sistem imun, dsb.
Mekanisme interaksi antara agens penyakit dengan inang (sel) melibatkan peranan makromolekul terutama protein-protein khusus. Karena itu juga dalam interaksi dengan penyakit ini, spesifisitas inang berlaku. Meskipun demikian tidak dapat disangkal bahwa kesamaan dalam morfologi dan fungsi sel-sel dari berbagai spesies itu ada.
Contoh yang baik adalah misalnya bidang farmakologi medis, ialah ilmu senyawa-senyawa kimia (obat-obat) yang berinteraksi dengan tubuh manusia dan hewan. Ada 2 kelompok interaksi yaitu farmakodinamika, dampak obat kepada tubuh, dan farmakokinetika, cara tubuh menangani obat dengan waktu misalnya absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi. Obat non-spesifik bertindak atas sifat fisiko-kimia (anestetika, diuretika osmotik), lain kelompok obat bekerja sebagai substrat tipuan atau inhibitor untuk sistem transpor atau enzim, dimana mekanisme pemberi dampaknya itu dengan aksinya pada molekul-molekul spesifik yang biasanya letaknya di permukaan membran sel atau organel. Protein-protein ini dinamakan reseptor yang menanggapi senyawaan kimia endogen tubuh yaitu senyawaan transmiter sinaps atau hormon-hormon. Zat-zat kimia atau obat yang mengaktivasi reseptor dinamakan agonis, sedangkan antagonis berikatan dengan reseptor tetapi tidak mengaktivasi. Interaksi antara obat dengan bagian reseptor yang diikat bergantung kepada sifat komplementer, kesesuaian antara kedua molekul. Makin tinggi kesesuaian yang bergantung kepada jumlah ikatan-ikatan lemah non-kovalen, maka makin besar afinitas obat terhadap reseptor. Disini muncul fenomena spesifisitas, tetapi tidak ada obat yang betul-betul spesifik melainkan banyak obat mempunyai spesifisitas selektif terhadap suatu reseptor.
Kedokteran dalam perspektif sejarah:
Sumbang-peran unsur hewan dalam pengembangan kedokteran.
- Kedokteran di zaman peradaban kuno tercatat dalam kitab Veda Hindu di India ribuan tahun sebelum tarikh Masehi, memuat tulisan-tulisan mengenai kedokteran manusia dan hewan. Kedokteran Hewan pada kitab Veda itu menafsirkan bahwa manusia belajar ilmu kedokteran dengan mengamati hewan-hewan dan burung-burung. Baru kemudian para dokter hewan Yunani dan Romawi mengembangkan ilmu veterinernya dari peradaban Hindu.
- Dokumen tulisan veteriner tertua pada kertas papirus Mesir yang ditemukan di Kahun (1900 SM), menghasilkan anggapan tempat lahir wabah dahsyat penyakit hewan di Timur Tengah dan diperkirakan anthrax.
- Babilonia menandaskan perlunya tindakan preventif dalam ”Code of Hammurabi” (2200 SM) yang mengatur praktek-praktek kedokteran manusia dan hewan secara hukum. Praktek saniter Judaisme dianggap berasal dari Babilon.
- Periode klasik kedokteran manusia Yunani (470-146 SM) yaitu abad filsuf dan dokter Yunani Hippocrates dari Cos (460-377 SM).
- Sistem Hippocrates menandaskan pemakaian standar-standar etika yang tinggi, observasi akurat, kejelasan dan kejujuran dalam pencatatan histori kasus, dan pengobatan rasional.
- Dokter hewan Yunani disebut Hippiatroi (dokter kuda, atau Equarius Medicus), profesi itu disebut juga Medicus Veternarius. Mungkin kata “veteriner” berasal dari istilah itu.
- Selama abad pertama, Hippiatroi Yunani yang bergabung dalam laskar Romawi berkontribusi melalui tulisan-tulisan tentang masalah-masalah penyakit hewan yang diderita kuda-kuda tentara. Tulisan itu bernama Hippiatrika mungkin adalah karya pertama yang komprehensif tentang penyakit hewan yang menjelaskan berbagai pengobatan khusus untuk hewan.
- Kedokteran manusia dan hewan pada saat itu berjalan parallel, meskipun oleh beberapa ahli sejarah, selama masa itu kedokteran veteriner dianggap superior dari kedokteran manusia.
Simbol dari profesi kedokteran adalah “tongkat Aesculapius” yaitu tongkat yang dililiti ular tunggal. Secara salah ada yang menggunakan tongkat Caduceus, yaitu tongkat pendek dengan sepasang sayap yang dililiti sepasang ular. Simbol ini adalah tongkat dewa Hermes Yunani (Mercuri Roma). Yang terlanjur menggunakan simbol yang salah ini adalah kalangan kedokteran Amerika, kalangan komersial dan tentara.
Eratnya hubungan kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat dapat disebutkan dimulai dengan ungkapan Rudolf Virchow (1821-1902) “Between animal and human medicine there is no dividing line—nor should there be. The object is different but the experience obtained constitutes the basis of all medicine.” [Critical Needs for Research in Veterinary Science, NRC, National Academies Press, 2005]. Di koloni-koloni Amerika Serikat dokter ternak muncul pada tahun 1600-an, sedangkan sekolah-sekolah kedokteran hewan di Eropa didirikan pada 1700-an. Undang-undang higiene pangan muncul pada 1773 di Boston dan sekolah kedokteran hewan pertama di Amerika Serikat didirikan pada 1854 dan perhimpunan profesinya pada 1863. Pada waktu bersamaan, pertengahan kedua abad ke 19 itu di Indonesia (Hindia Belanda) banyak penyakit menyerang ternak dan pemerintah kolonial merasa perlu mendidik tenaga bantuan medis bumiputra di bidang veteriner. Maka melalui beberapa tahapan yang dimulai 1861 akhirnya pada awal abad 1920 didirikan Nederlands Indische Veeartsen School (NIVS) yang semula untuk mendidik ahli tingkat menengah sebagai pembantu dokter hewan sarjana lulusan Utrecht, tetapi kemudian lulusannya mampu menyamakan kualitas dengan lulusan FKH Utrecht (Sejarah FKH UGM, website). Pada tahun 1906 Indonesia dapat bebas dari penyakit ternak besar rinderpest berkat penerapan kebijakan stamping out hewan tertular.
Perlunya disebutkan perkembangan di Amerika Serikat karena erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat. Dr. Daniel E. Salmon, murid pertama Dr. James Law (profesor pertama kedokteran hewan di Cornell yang direkrut dari Edinburgh, Inggris), adalah penemu bacteria Salmonella. Nama Salmon diabadikan untuk bakteri temuannya itu. Salmon kemudian diberi tugas memimpin Bureau of Animal Industry (BAI) dari USDA dan terlibat dalam pembentukan undang-undang untuk pembatasan impor hewan dan dengan demikian mengontrol resiko epidemi ke populasi hewan dan kesehatan masyarakat. Salmon ditemani Dr. Theobald Smith (dokter manusia) dan Dr. Frederick L. Kilborne (dokter hewan), kedua tokoh disebutkan terakhir menemukan protozoa Babesia bigemina yang menyebabkan demam pada hewan besar yang melibatkan penularannya melalui caplak.
Pada 1892 dokter hewan Perancis mengem-bangkan uji tuberculosis. Perkembangan di USA disebutkan dibawah penting, yaitu 1898 militer USA memperkerjakan dokter hewan untuk mengawasi bekalan pangan bagi laskarnya dalam perang Sepanyol-Amerika; para dokter hewan mengembangkan vaksin hog cholera, sedangkan Salmon dan Smith membuktikan bahwa organisme yang dimatikan oleh panas dapat mengimunisasi hewan terhadap agens penyakit yang hidup. Temuan ini merupakan dasar untuk produksi Jonas Salk’s polio vaccine. Pada 1900 dokter hewan Amerika membuktikan adanya insekta sebagai vektor penyakit; penelitian dimulai untuk mengontrol typhus, malaria, pes bubonik dan yellow fever. Kampanye pemberantasan TBC pada sapi (1920) memberi implikasi positif untuk kesehatan masyarakat, 99.9% sapi di USA jadi bebas TBC Demikian juga aturan kontrol rabies (1940), dan pada 1948 Martin M. Kaplan, dokter hewan dan virologist, merintis veterinary public health (VPH) program di WHO dan menghasilkan untuk kali pertama adanya pertemuan WHO Expert Committee on Zoonoses meeting pada 1950 dan pada 1967 Joint FAO/WHO Expert Committee on Zoonoses mengidentifikasi lebih dari 150 penyakit zoonoses.
Pada 1960 Dr. Calvin W. Schwabe mencanangkan KSK memfokuskan pada kesamaan-kesamaan perhatian kesehatan medis manusia dan hewan, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Pada 1986 BSE Bovine Spongiform Encephalopathy (atau “Mad Cow Disease”) diidentifaksi di Inggris yang berkekerabatan dengan scrappy pada domba; pada 1989 para dokter hewan militer USA berperan penting dalam diagnosa dan managemen wabah virus Ebola di Reston, VA dan 1993 para dokter hewan mengidentifikasi dan membantu kontrol wabah E. coli pada manusia di Pacific Northwest, USA. Pada 1996 para dokter hewan US National Institutes of Health menemukan kaitan antara virus pada groundhogs dan hepatitis B pada manusia, sedangkan para dokter hewan di Universitas Cornell menemukan kaitan antara canine heart abnormalities dan Sudden Infant Death Syndrome (SIDS).
Dokter hewan Australia, Dr. P.C. Doherty yang bekerja di USA bersama Dr. Rolf Zinkernagel dikaruniai hadiah Nobel untuk Kedokteran untuk temuan mereka di bidang penelitian immunologi, tentang bagaimana sistem imun tubuh dapat membedakan sel-sel normal dari sel-ael yang terinfeksi oleh virus [Emerging Infectious Diseases, April 2006]. Dokter hewan Doherty kini bermukim di Melbourne, Australia dan menggarap topik penelitian menyangkut flu burung. Pada 1999, temuan pertama penyakit West Nile Virus (WNV) di USA diidentifikasi oleh dokter hewan dari New York state. Wabah WNV merupakan kasus perlunya mengenali kaitan antara penyakit manusia dan hewan. Terlihat adanya gejala-gejala neurologi pada penderita manusia dan pada burung-burung liar. Pada awalnya penyakitnya pada manusia secara keliru disangka St. Louis encephalitis (SLE). Seorang dokter hewan patologis putri bernama Tracey McNamara yang bekerja di Kebun binatang Bronx, menduga bahwa penyakitnya pada manusia dan hewan itu mungkin ada berhubungan, dan akhirnya ternyata benar bahwa keduanya disebabkan oleh WNV, sebab SLE tidak terjadi pada burung.
Alasan-alasan mengapa KSK penting untuk kesehatan masyarakat, didasarkan pada kenyataan-kenyataan berikut.
*Kini dikenal adanya 1,407 spesies organisma infeksius patogen terhadap manusia, dimana 58% dari padanya zoonotik. Dari jumlah itu, 177 dianggap emerging atau reemerging dan dari padanya 130 (73%) zoonotik [Emerging Infectious Diseases, Dec. 2005; 11:12; 1842-1847].
KSK sangat perlu melihat kepada contoh-contoh utama KSK dibawah:
(1) Di tahun 1893, tim yang terdiri atas dr manusia-dr hewan, Dr. Theobald Smith dan Dr. F.L. Kilbourne, menemukan bahwa agens infeksius Babesia bigemina, penyebab demam lembu ditransmisi oleh caplak. Penelitian mereka yang sangat penting ini membuka jalan penemuan Walter Reed tentang yellow fever yang ditransmisi oleh nyamuk [LH Kahn, Emerging Infectious Diseases, Vol. 12, No. 4, April 2006].
(2) Pemenang hadiah Nobel untuk ilmu faal atau kedokteran tahun 1996 dimenangkan oleh tim dr manusia-dr hewan yaitu Dr. Rolf Zinkernagel and Dr.Peter C. Doherty, seperti telah dijelaskan sebelumnya.
(3) Universitas Tuskegee di Alabama, USA merupakan pendukung awal gagasan KSK. Dibawah pimpinan Dr. George Washington Carver, mengarahkan para dosennya mengabdi ke masyarakat dengan
- Mendirikan “The Jesup Wagon” atau dinamakan juga Sekolah yang Bergerak
- Informasi kesehatan dan usaha pertanian yang dikemas dalam paket tunggal dan diberikan kepada keluarga-keluarga petani di daerah-daerah pedalaman yang terpencil
- Merupakan model untuk belahan dunia lainnya.
The Jesup Wagon terdiri atas disiplin-disiplin ilmu Keperawatan, Kesejahteraan keluarga (Home economics), pendidikan kesehatan manusia dan hewan, dan sanitasi. Meskipun bukan merupakan pengikut tim yang tetap, dokter hewan diikutkan di waktu ada wabah penyakit hewan dan untuk melakukan program vaksinasi. Di Indonesia sejak awal tahun 1970-an, fakultas-fakultas kedokteran hewan dengan dukungan bantuan presiden melakukan kegiatan serupa, meskipun hanya untuk bidang veteriner yang dikenal dengan nama Klinik Hewan keliling, membantu petani dan peternak di desa-desa dalam penyuluhan dan pelayanan kesehatan ternak.
- Kesuksesan KSK yang dijalankan kelompok Universitas Tuskegee berguna untuk masyarakat pedesaan karena ia merupakan rencana aksi yang andal; sesuai kebutuhan masyarakat bersifat praktis, efektif dan didukung faktor-faktor sosioekonomi yang kondusif terhadap aplikasi konsepnya. Banyak faktor-faktor serupa dialami oleh bagian-bagian dunia yang lain.
Perkembangan penerapan biosains dan teknologi di bidang reproduksi jelas banyak diawali oleh penelitian dan teknik-teknik yang dikembangkan di bidang veteriner. Mulai dari inseminasi buatan, teknologi alih janin, superovulasi, fertilisasi telur in vitro hingga ke ”bayi tabung” dan kloning (yang dimahkotai dengan kelahiran Dolly di Inggris) serta penelitian sel induk (stem cell research) didahului oleh penelitian-penelitian pada hewan dan bidang produksi dan kesehatan hewan.
Status kesiapan kedokteran hewan di Indonesia yang kurang memadai menghadapai flu burung khususnya dan penyakit hewan lainnya. Keadaan ini juga menyadarkan kita perlunya falsafah KSK hidup membudaya di masyarakat yaitu kenyataan adanya ketidak-puasan penuntasan penanganan flu burung di bidang kesehatan hewan karena tidak seimbangnya perhatian penanganan aspek kedokteran manusia dan kedokteran veteriner di negeri ini, dimana aspek kedokteran veteriner jauh ketinggalan gerak-langkahnya dalam penanganan merebaknya wabah itu. Kita juga senantiasa harus mewaspadai akan timbulnya ”new emerging diseases” yang sumbernya penyakit zoonosis juga.
Mencermati merebaknya flu burung di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, yang menular melintasi batas-batas negara menyerang bukan hanya unggas melainkan juga manusia (penyakit zoonosis) dengan akibat yang dapat mematikan, maka jajaran kedokteran/kesehatan masyarakat wajib untuk menyikapi keadaan itu dengan benar. Flu burung patogenik sangat tinggi (highly pathogenic avian influenza = HPAI) H5N1 mengancam sumber hidup ratusan juta perternak miskin, mengganggu usaha wiraswasta tingkat bawah dan produksi unggas komersial dan secara serius menghambat peluang perdagangan regional maupun internasional, serta kekhawatiran timbulnya pandemi pada manusia dengan segala konsekuensinya.
Pencegahan merebaknya penularan pada manusia memerlukan tindakan vaksinasi, yang menuntut penggunaan vaksin yang dibuat dari agens antigenik (virus flu burung) asal penderita manusia tertular dari sumber manusia tertular juga. Tetapi upaya tersebut tidak akan efektif apabila sumber penyakit yaitu penularan pada burung/unggas/hewan lain tidak ditangani dengan semestinya, karena hewan-hewan ini tetap akan menjadi sumber penyakit yang membahayakan karena virus flu burung sangat mudah bermutasi. Penanganan penyakit hewan dengan wewenang profesional medis harus terfokus dan dilakukan mengikuti prosedur standar dalam kerjasama dengan badan-badan internasional yang berwewenang dalam kesehatan hewan, yaitu OIE dan FAO. Penanganan penyakit tidak hanya dilakukan untuk unggas yang dibudi-dayakan tetapi juga termasuk unggas liar yang bermigrasi hingga jarak jauh, serta kemungkinan pada hewan lain. Tindakan pencegahan merebaknya flu burung dilakukan dengan pemusnahan unggas selektif dan vaksinasi pada unggas. Pemusnahan menuntut perhatian pada aspek-aspek sosial-budaya dan untuk unggas liar diperlukan pendekatan yang tidak bertentangan dengan pelestarian plasma nutfah. Tindakan vaksinasi memerlukan kehati-hatian dan pengamatan cermat dalam kemungkinan timbulnya sub-galur virus antigenik baru (seperti virus Fuji kini muncul di Asia, NAS Proc. 8/11/ 06).
Kasus pertama flu burung pada unggas formalnya muncul pada bulan Januari 2004 dan kini penularannya meyebar ke provinsi-provinsi Jabar, Jakarta, Banten, Jateng, Yogyakarta, Jatim, Bali, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan. Oleh alasan-alasan tertentu, kenyataannya kemunculan pertama “disembunyikan” hingga enam bulan dan baru kemudian keadaan tertular diumumkan. Kasus pertama pada manusia terjadi di Tangerang, Banten pada Juli 2005.H5N1 telah menular kemanusia dimana Indonesia tercatat sebagai Negara dengan angka penularan dari unggas ke manusia tertinggi di dunia dengan 69 kasus positif terkena, 52 orang diantaranya meninggal hingga akhir 2006. Kini, awal Mei 2008 angka kematian oleh flu burung di Indonesia mencapai 106 orang. Namun hingga kini belum ada kasus penularan virus flu burung antar manusia. Kasus flu burung pada manusia masih terbatas di Asia Tenggara, tetapi perkembanganan global merebaknya pada unggas menyebar secara radial kearah barat dan saat ini sudah menulari 51 negara termasuk beberapa kawasan di Rusia. Para ilmuwan menyatakan bahwa Indonesia yang mempunyai jutaan ayam yang dipelihara dibelakang rumah dan tidak adanya fasilitas medis yang memadai, mempunyai potensi akan jatuh korban besar jika terjadi pandemi flu burung secara global.
Flu burung bersifat patogenik sangat tinggi (“highly pathogenic avian influenza” = HPAI) H5N1 mengancam sumber hidup ratusan juta perternak miskin, mengganggu usaha wiraswasta tingkat bawah dan produksi unggas komersial, dan secara serius menghambat peluang perdagangan regional maupun internasional. Flu burung telah menimbulkan kerugian besar pada ekonomi masyarakat di kawasan Asia Tenggara dengan perkiraan dampak kerugian sebesar US$ 10-12 milyar. Antara bulan Agustus 2003 hingga Agustus 2006 jumlah total kematian unggas diseluruh Indonesia sebanyak 11,6 juta meliputi ayam ras, ayam bukan ras, puyuh, itik, merpati, entok, dan angsa.
Virus HPAI H5N1 secara genetik dapat menular dari manusia ke manusia dan sulit diprediksi jika virus itu bermutasi. Migrasi burung dapat turut membawa virus tersebut dan menularkan ke peternakan unggas, penularan akan tetap “terbuka”.
Hal-hal mengenai kesehatan hewan, termasuk zoonosis, serta dampaknya pada sektor usaha ternak, merupakan tugas, tanggung jawab dan wewenang dari Departemen Pertanian. Pada awal kemerdekaan, penanganan peternakan dan kesehatan hewan terbatas bersifat teknis semata menyangkut pengadaan bibit, pakan dan vaksin.
Kemudian berkembang ke periode pendekatan terpadu dengan ciri sapta-usaha ternak, disusul dengan periode pendekatan agribisnes berdasarkan UU no. 6/1967 [UU Peternakan dan Kesehatan Hewan/Veteriner]. Hingga saat itu, dan sampai sekarangpun, bidang (kesehatan) veteriner hanya merupakan subsistem yang dipimpin Direktur eselon II, dibawah hierarki atasan yang (mungkin) bukan berprofesi medis-veteriner. Menghadapi mellineum 21, tuntutan tugas menjadi lain sehubungan perlunya perhatian terhadap persyaratan WTO dan GAT mengenai produk hewani. Setelah berlangsungnya Uruguay Round (1994), maka Indonesia telah meratifikasinya dengan UU no. 7/1994 yang disesuaikan dengan GAT yang menentukan keharusan melindungi manusia, hewan dan tanaman terhadap cemar, cemaran dan penyakit, sesuai dengan tuntutan TBT (tarif, barrier and trade) dan SPS (sanitasi, phyto-sanitasi). Namun pada era baru sekarang ini mutlak diperlukan adanya 2 sistem yang terpisah, yaitu SISAGRINAK (sistem agri peternakan) dan SISVETNAS (sistem veteriner nasional), yang terakhir harus secara professional mampu memperhatikan interaksi antara hewan dan manusia (zoonosis) yang ditandai dengan munculnya isyu-isyu: zoonosis, mutasi, pendekatan epidemiologis mencermati interaksi antara agens penyakit, inang dan lingkungan (conservation medicine). Penanganan masalah wabah penyakit hewan maupun zoonosis a.l. terkendala karena tidak adanya payung hukum dan otoritas yang menangani masalah kesehatan hewan dengan posisi yang memadai. Karenanya perlu dilakukan revisi dan reposisi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan (Veteriner), no. 6 th 1967 mengingat tuntutan dan tantangan penanganan penyakit hewan terus berkembang: yang menyangkut landasan filosofi, lingkungan strategis skala nasional, regional dan global yang berkembang, cakupan masalah peternakan dan kehewanan meliputi penyediaan pangan, perlindungan kesehatan lingkungan, pelestarian plasma nutfah dan pencegahan bioterorisme. Fokus veteriner adalah pengamanan dan pelayanan.
Secara legal formal penanggulangan penyakit harus ditangani oleh ilmu kedokteran, yaitu penyakit pada he hewan, yang ber-kompeten menangani wabah panyakit hewan dan zoonosis agar segera dapat dituntaskan. Penanganan penyakit hewan dengan wewenang profesional mengisyaratkan dibentuknya Badan Otoritas Veteriner (BOV) untuk menentukan kebijakan perihal penyakit hewan menular dan berbagai kebijakan terkait guna koordinasi pekerjaan intansi-instansi, universitas, perusahaan swasta yang terlibat dalam pemonitoran dan pengawalan kesehatan hewan secara terfokus.
Dalam mempelajari epidemiologi patogen zoonosis, diperlukan tindakan cepat dan terpadu antara berbagai instansi/laboratorium diagnostik didalam negeri dari berbagai departemen yang terkait dan dengan berbagai badan LN yang berwenang dalam urusan kesehatan hewan, seperti OIE, FAO dll. Petugas medico-veteriner perlu meningkatkan kemampuannya dalam menangani flu burung dimulai dari identifikasi agen penyakit dan mampu menggunakan instrument peringatan dini guna secara cepat melakukan diagnosis diferiensial untuk mengklasifikasi isolat dari sampel termasuk patogen tinggi atau tidak, maka kerja sama dengan pihak LN perlu mencakup pelatihan, a.l. dalam penguasaan dan kemampuan cara-cara pengenalan dini. Mengembangkan perangkat (kit) untuk mendiagnosa flu burung secara cepat didalam negeri perlu diadakan.
Untuk dapat dilaksanakan penugasan yang baik, maka tiga persyaratan yang harus dipenuhi untuk penanganan kesehatan hewan, yaitu kelengkapan sistem/prosedur kerja, perangkat (hardware dan software) serta sumber daya manusia yang profesional (SDM).
Tindakan pencegahan merebaknya flu burung dilakukan a.l. dengan pemusnahan unggas selektif dan vaksinasi. Pemusnahan menuntut biaya kompensasi yang memadai. Pengadaan vaksin perlu difasilitasi dan seharusnya menggunakan vaksin strain lokal Indonesia.
Hasil vaksinasi pada unggas telah mampu menekan tingkat kematian. Namun perlu dikaji a.l.: Kualitas vaksin, Distribusi vaksin, Jenis unggas yang divaksin, Dosis, Evaluasi dan monitoring, Dinamika virus flu burung.
Perlu dilakukan studi mendalam dalam bidang: epidemiologi, karakter virus (antigenisitas, patogenitas, mutasi dll), inang antara maupun loncat inang dan inang definitif lainnya terutama untuk Indonesia, dan penyebarannya ke manusia.
Penanganan flu burung terutama pada peternakan rakyat, “back yard”, burung liar perlu penanganan cepat yaitu kunci masalah epidemiologis. Penelitian flu burung pada hewan mutlak perlu laboratorium tingkat BSL 3.
Kerja sama penelitian dasar dan terapan dengan pihak luar perlu ditingkatkan namun harus tetap selektif ketat dan jelas posisi masing-masing dalam hal hak dan kewajibannya untuk keuntungan bersama.
Penataan/lokalisasi peternakan unggas, diperlukan didaerah padat manusia dan unggas. Penyuluhan tentang flu burung untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat mensyaratkan kegiatan itu dilakukan sesuai taraf pendidikan masyarakat.
Kebutuhan meningkat akan jumlah SDM dibidang kesehatan hewan perlu dipenuhi: Dokter hewan, Sarjana Kedokteran Hewan, Diploma strata 3, Paramedis veteriner, dan Tenaga kesehatan hewan berbasis masyarakat.
Bidang-bidang garapan bersama dalam konsep satu kedokteran: Kesehatan masyarakat dan perlunya kedokteran komparatif.
Banyak diantara penyakit-penyakit yang baru, termasuk yang digunakan dalam bioterorisme adalah zoonosis karena golongan penyakit ini dapat menyerang manusia dan hewan. Karena itu maka masyarakat kesehatan manusia maupun veteriner harus bekerjasama dalam aspek klinik, kesehatan masyarakat dan penelitian.
Pemeliharaan hewan kesayangan mendekatkan manusia dan hewannya dan hubungan ini punya resiko penularan penyakit. Karena itu kedua profesi kedokteran harus meningkatkan evaluasi klinis terutamna untuk kasus-kasus dimana ada kompromi secara imunologi. Di bidang kesehatan masyarakat, sistem-sistem penyakit piaraan dan satwa liar dan manusia, akan membantu menuju tercapainya pengontrolan yang efektif dari penyakit. Para dokter manusia dan dokter hewan akan dapat mengenali timbulnya wabah, karena itu ahli epidemiologi di rumah sakit, para dokter hewan dan petugas kesehatan masyarakat setempat tidak hanya harus mengatasi wabah tetapi juga harus mampu mengidentifikasi apakah ada kejadian luar biasa timbul yang menyangkut hewan dan manusia pada kejadian-kejadian terpisah. Dalam bidang penelitian diperlukan kerjasama antara dokter hewan dan dokter
manusia dalam bidang kedokteran komparatif dan dengan demikian meningkatkan pemahaman tentang interaksi agens zoonosis-inang.
Perbedaan antara kedua profesi kedokteran itu ialah bahwasanya dokter hewan harus menguasai pengetahuan anatomi dan penyakit dari berbagai spesies hewan. Suatu pengobatan mujarab bagi satu spesies tidak mesti harus juga mujarab bagi spesies lain atau malahan dapat berbahaya. Dokter hewan juga harus menguasai bidang medis maupun bedah dan karenanya harus menguasai pediatri, obstetri, anesthesiologi, bedah plastik, kedokteran gigi, dermatologi, geriatri, dan orthopedi. Semuanya harus dilakukan tanpa komunikasi dengan pasien, karenanya harusnya dokter hewan itu mampu sangat tepat dalam diagnosa menggunakan pengalaman dan intuisi.
Penelitian bidang veteriner penting untuk melindungi kesehatan masyarakat, dan pada kemajuan ilmu pengetahuan yang menguntungkan manusia dan hewan sebagai individu maupun populasi. Penelitian veteriner termasuk studi pencegahan, control, diagnosa, dan pengobatan penyakit, dan dalam aspek biologi dasar dan kesejahteraan hewan. Penelitian-penelitian itu sampai melangkahi batas seperti studi membuat dan menggunakan model penyakit manusia dan hewan yang timbul spontan maupun eksperimen. Juga penelitian pada interface manusia-hewan yang penting seperti keamanan pangan, satwa liar dan sistem kesehatan ekologi, penyakit zoonosis, dan kebijakan publik.
Sebaliknya, kesempatan berkembang yang jauh lebih maju di dunia kedokteran manusia telah memberikan pengalaman dan kemampuan yang besar kepada para dokter manusia, dan hal-hal itu perlu ditularkan kepada profesi kedokteran hewan. Lebih-lebih dalam kaitan dengan kekurangan dalam menyikapi wabah flu burung di Indonesia, dan menghadapi kemungkinan timbulnya penyakit-penyakit baru (NED). Dalam hal ini diperlukan tidak hanya sikap budi-baik dari profesi kedokteran melainkan pemahaman dan pengertian KSK oleh pengambil keputusan/pemerintah dan fihak legislatif dan masyarakat umum dalam memberikan peran dan status yang memadai kepada bidang kesehatan hewan dan profesi kedokteran hewan.
Pendanaan untuk penelitian veteriner pada saat ini masih belum memadai dibandingkan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi sebagai bahaya-bahaya baru dan yang akan timbul, maupun tantangan kebutuhan peningkatan pengetahuan dalam bidang biomedis dan kesehatan hewan.
Fakta yang menggembirakan ditemukan di bidang pendidikan tinggi dimana beberapa fakultas kedokteran swasta telah memanfaatkan beberapa
ilmuwan/dosen dari kalangan veteriner menjadi staf akademinya. Sejak 1960-an FK UKI telah melakukannya untuk bidang-bidang farmakologi dan ilmu faal. Demikian juga FK UKRIDA dari 2000-2004 telah memperkejakan penulis untuk membantu menggiatkan penelitian biomedis. Baru-baru ini FK Universitas Atmajaya Jakarta telah mengangkat Prof. Bibiana Lay, drh, PhD menjadi professor mikrobiologi. Disamping itu, beberapa dosen (dokter manusia) dari berbagai FK telah menjalani studi S-2 dan S-3 di IPB dalam bidang-bidang studi biomedis.
Bagaimana mengimplementasi KSK.
Dilihat dari kacamata divergensi kedua cabang profesi kedokteran maka diperlukan:
(1) Hilangkan sifat egois profesi dari masing-masing kelompok
(2) Temukan kesamaan-kesamaan kedokteran manusia dan kedokteran hewan
(3) Singkirkan pandangan meremehkan terhadap aktivitas yang diemban kedokteran hewan
(4) Pendidikan, kolaborasi, hindari komunikasi sempit hanya dalam profesi kelompoknya dan manusi tingkatkan komunikasi antar disiplin, melatih diri dan terjun ke masyarakat.
Dari sisi keterlibatan pemerintah, lembaga legislatif dan hukum dan masyarakat pada umumnya:
(1)Fahami dan budayakan KSK dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat maupun hewan.
(2) Berikan status dan wewenang dan tugas yang memadai kepada jajaran veteriner dan adakan fasilitas dan dana yang layak mendanai program-program kesehatan hewan yang diperlukan.
Ucapan terima kasih.
Terima kasih disampaikan kepada para rekan ahli veteriner yang telah memberikan saran dan masukan guna perbaikan tulisan ini.
Daftar Bacaan
Tulisan terutama bersumber dari bacaan:
- Alberts, B., D. Bray, J. Lewis, M. Raff, K. Roberts, J.D. Watson. Molecular Biology of the Cell, 4th ed. 2002. Garland Publishing, Inc., New York & London.
- Critical Needs for Research in Veterinary Science, NRC, National Academies Press, 2005.
http://fermat.nap.edu/openbook.php?record_id=11366&page=13 - Emerging Infectious Diseases, Dec. 2005; 11:12; 1842-1847.
Hicks, J.M. (2007). The One Medicine Concept. The historical Perspective of Veterinary Medicine and Public Health. www.asph.org/VETMED/OralBios/hicks-onemedicine.pdf John.hicks@fda.hhs.gov - FKH UGM Website tentang sejarah.
www.fkh.ugm.ac.id/index.php?pModule=profile&pSub=sejarah&pAct=view – 22k – - Sastradipradja, D., S.D. Jusuf dan M.B. Malole (2003). Spesifisitas Inang Penyakit dan Kemungkinan Penularan Antar Spesies Inang. Disampaikan pada Seminar “Pandangan AIPI mengenai merebaknya ‘New Emerging Diseases’ berdampak global”, diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Kerjasama Komisi Kedokteran dan Komisi Ilmu Pengetahuan Dasar, pada 12 Juni 2003 bertempat di Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jalan Diponegoro, Jakarta.
- Sastradipradja, D., Muladno, A. Boediono, A. Setiyono and S. Muharsini (2004). Is There a Role of Bioscience and Gene-based Technologies To Improve Animal Productivity and Alleviate Animal Diseases in Developing Countries? Paper prepared for the XIVth International Conference of the Islamic Academy of Sciences, 6 December 2004 in Denpasar-Bali, Indonesia. Due to certain reasons, the event was cancelled
- Sastradipradja, D. (2007). Zoonosis dengan Perhatian Khusus kepada Influenza Burung. Makalah disampaikan pada sidang pleno AIPI, 17 Maret 2007.
- Tuskegee University, One Medicine Health Concept Focus of Annual Lillian Harvey… www.tuskegee.edu/Global/story.asp?S=5535716 -34k –
—————- Sp.08 —————-
ada gak contoh yang bertentangan dengan etika???
saya ingin mengetahui nya??
Ada. Jika seorang dokter hewan menjalankan praktek kedokteran pada manusia. Salam sejawat. DWS